Shiny Flashy Green Matrix
ALT_IMG

Branderburg Tor

Branderburg Tor Gerbang Brandenburg (Brandenburg Tor) adalah salah satu landmark paling terkenal di Eropa. Terletak di barat Berlin Center, Gerbang Brandenburg diresmikan oleh Raja Fredrick William II dan dibangun antara tahun 1788-1791 oleh Carl Gotthard Langhans. Landmark ini menjadi simbol dari berbagai rezim sepanjang sejarahnya Readmore...

ALT_IMG

Reichstag

Reichstag adalah gedung parlemen Jerman yang letaknya di sebelah gerbang Brandenburg. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 1894, yang dananya berasal dari kemenangan perang atas Perancis. Selanjutnya gedung ini mengalami renovasi hingga akhirnya selesai pada tahun 1999Readmore..

Alt img

Berliner Dom

Berlin Cathedral, atau biasa dikenal dengan nama Berliner Dom adalah gereja Kristen Protestan terbesar di Berlin. Bangunan ini mulai dibangun pada tahun 1465, namun baru benar-benar selesai dibangun 440 tahun kemudian. Saat perang dunia kedua berlangsung, gereja ini sempat mengalami kerusakan parah. Namun pada tahun 1993, Berlin Cathedral kembali diperbaiki. Readmore...

ALT_IMG

Allianz Arena

Allianz Arena adalah stadion terbesar ketiga di Jerman, tempat pertandingan kandang klub terbesar Jerman, dibangun dengan biaya trilyunan rupiah. Terletak cukup jauh dari pusat kota Munich, di pinggiran sebelah utara, stadion berkapasitas sekitar 71 ribu orang itu dijuluki "Schlauchboot" oleh orang Jerman, karena bentuknya menyerupai perahu karet yang bisa dipompa dengan gas. Readmore...

ALT_IMG

Masjid Cologne

Masjid Cologne menjadi masjid terbesar di Jerman yang dibangun di atas lahan seluas 16.500 meter persegi dan dapat menampung lebih dari 1.200 orang. Dibangun oleh Federasi Asosiasi Islam Turki di Jerman (DITIB), yang memutuskan untuk membangun sebuah masjid utama di negara Jerman. Masjid ini dua menara besar yang mempunyai ketinggian lebih dari 50 meter. Readmore...

ALT_IMG

glückliches neues Jahr 2014

Selamat tahun baru 2014, semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Readmore...

Tampilkan postingan dengan label LINGUISTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGUISTIK. Tampilkan semua postingan

Aliran Linguistik: Aliran London

0 komentar


1. Pendapat John Ruppert Firthian (1890-1960)
Seperti yang diungkapkan Soeparno dalam Dasar-dasar Linguistik Umum, Firthian adalah guru besar pada Universitas London sangat terkenal sebagai pelopor Aliran London. Bila aliran Bloomfieldian  disebut dengan nama strukturalisme Amerika, maka aliran Firthians disebut strukturalisme kontinental. Kaum ini terkenal karena kecenderungannya untuk menerapkan hal-hal yang praktis. Para ahlinya antara lain : John Ruppert Firth, Daniel Jones, Brownislaw Malinowski, dan H.Sweet.
Firth mengeluarkan teori tentang fonologi prosodi.Titik berat perhatiannya memang pada bidang fonetik dan fonologi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Fonologi prosodi terdiri dari satuan-satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan –satuan fonematis berupa unsur-unsur segmental, yaitu berupa konsonan dan vokal. Sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segemn tunggal. Ada 3 macam pokok prosodi, yaitu (1) prosodi yang menyangkut gabungan fonem: struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vokal; (2) prosodi yang terbentuk oleh jeda; dan (3) prosodi yang lebih daripada fonem-fonem suprasegmental.
Firth juga berpendapat telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis. Tiap tutur harus dikaji dalam konteks situasinya, yaitu orang-orang yan berperan dalam masyarakat, kata-kata yang mereka ungkapkan, dan hal-hal lain yang berhubungan. (Abdul Chaer: 355-356)
Karya Firth dan kelompoknya mempunyai pandangan yang sama tentang struktur bahasa seperti yang dikemukakan oleh de Saussure. Firth meminjam istilah konteks situasi dengan membedakan tataran yang beragam dan menunjukkan adanya unsur linguitik yang terbatas. Ia menggunakan dua jalur yang dikemukakan oleh de Saussure, yaitu paradigma dan sintagmatik.
Firth berpendapat bahwa pertanyaan tentang realitas dapat melumpuhkan penyelidikan. Objek kajian linguistik menurut Firth adalah bahasa secara aktual. Firth mengatakan bahwa struktur berkenaan dangan hubungan sintagmatik antar unsur  dan sistem yang berhubungan dengan paradigmatik antar unit. Konteks situasi adalah konstruk sistematik yang diterapkan khusus untuk peristiwa sosial yang berulang terdiri atas berbagai tataran analisis. Tataran ini yaitu fonetik, fonologi, tata bahasa, kosa kata, dan bahasa.
Pendekatan situasional  untuk menganalisis situasi tuturan sebagai berikut:
  1. Hubungan dalam teks itu sendiri
  1. Hubungan sintagmatik antara unsure struktur yang dipertimbangkan dalam berbagai tataran analisis
  2. Hubungan paradigma istilah untuk memberikan nilai pada unsure struktur.
  3. Teks dalam hubungan dengan unsur nonverbal dengan hasil keseluruhan yang efektif
  4. Hubungan analisis antara bagian teks dan unsur khusus dalam situasi.
  1. Hubungan dalam konteks situasi
Komponen dasar dari makna keseluruhan adalah fungsi fonetik, fungsi leksikal, fungsi morfologi, dan fungsi sintaksis serta seluruh konteks situasi.
Tataran pertama adalah fonetik dan fonologi. Pada tataran ini bunyi mempunyai fungsi berdasarkan (1) tempat terjadi; dan (2) kontras yang ditunjukkan dengan bunyi yang dapat terjadi ditempat yang sama.
1. tempat
Dengan menggunakan contoh bahasa Inggris, dapat ditentukan bahwa bunyi /b/ dapat terjadi:
  • Pada posisi depan (awal)
  • Sebelum vokal
  • Sebelum jumlah konsonan tertentu
  • Tidak pernah ada sesudah konsonan

2. Kontras

Dalam kajian kata, dimana /b/ berposisi depan ditemukan bahwa posisi itu dapat diganti oleh /p/ atau /m/ :
  • Jika ada /p/ atau /m/, bunyi /s/ dapat mendahului bunyi itu.
  • Jika /p/ dan /m/ diartikulasikan seperti /b/ berdasarkan tempatnya, ada kontras antar mereka: /b/ dan /p/ keduanya bilabial, tetapi /b/ dan /p/ biasanya bukan nasal, /m/ adalah nonplosif, dan seterusnya.
  • /d/ adalah alveolar dan berkontras secara berbeda dengan /b/ daripada dengan bunyi yang lain, dan seterusnya.
Yang dicatat oleh Firth ialah bahwa fungsi dari seorang ahli fonologi ialah menunjukkan satuan fonemik dan satuan prosodi dalam kaitannya dengan makna, sedang ahli fonetik ialah menghubungkan satuan itu dengan proses dan ciri ujaran.
Tataran kedua ialah leksikal. Dalam tataran ini makna dapat dipertimbangkan. Makna kata dapat ditunjukkan tidak hanya dalam pengertian referensial seperti lazimnya dikerjakan, tetapi dapat juga dipertimbangkan dalam lingkup kolokasi.
Tataran ketiga adalah tata bahasa yang dapat dipilahkan menjadi morfologi dan sintaksis dalam tataran morfologi, dapat dilihat paradigma untuk kata denan tidak melupakan syarat makna dalam paradigma itu.
Dalam tataran makna sintaksis, kita berurusan dengan kologasi atau hubungan sintagmatik antara kategori gramatiakal.
Tataran keempat adalah situasi. Tataran ini sangat dekat dengan tataran makna, sulit untuk menggambarkan konteks situasi itu denan bahasa yang tepa. Oleh seba itu, biasanya para Linguas memilih butir-butir yang gayut. Firth mendaftar butir-butir itu sebagai berikut:
  1. Partisipan
  • Tindak verbal mereka
  • Tindak nonverbal mereka
  1. Obyek yang gayut, peristiwa nonverbal dan nonpersonal
  2. Evek tidak verbal
Pendekatan seperti itu diistilahkan monistik dan menghilangkan dikotom kata, dan pikiran atau menerapkan cakupan materialisme untuk menghilangkan mentalisme. Pendekatan itu digunakan dengan dua alasan pokok, yaitu:
  1. Memungkinkan kita dapat menyatakan pemakaian penuturan dalam sebuah situasi, dan kita dapat menyamakan makna dengan pemakaian.
  2. Untuk menjamin bahwa kita menguji kebenaran serpihan bahasa, alih-alihan contoh yang tidak tepat yang ditemukan dalam banyak tata bahasa.
Dalam menganalisis unsur bunyi dalam tuturan, analisis prosodi membedakan hubungan paradigmatik dan sintagmatik. Butir dalam hubungan paradigmatik adalah sistematik, dan butir dalam hubungan sintagmatik ialah struktural.
Sebuah fonematik mirip namun berbeda dengan fonem. Fonem adalah sebuah satuan yang dibatasi melalui kemampuannya untuk membedakan sebuah butir leksikal dengan yang lain. Perbedaan antara fonem dan satuan fonematik ialah prosodi.
Kata kerja harus diangap sebagai kata kerja perifrastik polinomial, bukan sebagai kata-kata individual. Analisis kategori gramatikal atau kategori morfemik harus dikaji secara sintagmatis, selama mereka muncul secara paradigmatik sebagai satuan yang memberikan nilai pada unsur struktur. Analisis yang sama harus diterapkan pada bagian-bagian klausa.Dalam tataran leksikal, kologasi menunjukkan pentingnya bagian frase, klausa, kalimat dan secara erat merajut kelompok kalimat.

2. Pendapat Brownislaw Malinowski (1884-1942)
Brownislaw Malinowski berasal dari Inggris, ia terkenal dalam bidang Antropologi. Pandangannya yang mendasar tentang makna dalam bahasa itu disebut “konteks situasi”, yang kemudian diambil dan dikembangkan oleh J.R.Firth. Menurut Malinowski, makna tuturan itu seperti yang terdapat dalam konteks situasinya. Gagasan ini telah mencakup dan mendukung gagasan Bloomfield. Kaum mentalis dan mekanis biasa menyebutnya metode praktis.
Malinowski berpendapat bahwa:
1)     kalimat adalah bahasa dasar.
2)     kata merupakan abstraksi sekunder. Ia membatasi kalimat sebagai sebuah tuturan yang di ikat oleh sebuah kesenyapan atau jeda yang dapat didengarkan. Menurut Malinowski bahasa adalah peranti kegiatan sosial dan peranti kerja sama.

  1. Komunifatik
Komunifatik adalah istilah yang ditemukan oleh Malinowski untuk memberi  label pada pemakaian bahasa yang nonreferensial. Mungkin seseorang akan keberatan bahwa pelarian dari masalah referensial semacam itu hanya ada jika tuturan dalam masyarakat memberi efek melalui perantara pemahaman penutur berupa harapan, keinginan, dan sebagainya.
  1. Terjemahan
Malinowski berpandangan selama masyarakat itu unik, bahasa serta situasi pemakai bahasa itu juga unik khususnya dalam situasi masyarakat tertentu.

3. Analisis Monosistemik Versus Polisistemik
Menurut Bloomfield, fonemik didasarkan pada sistem tunggal bahasa sebuah asumsi yang bertentangan dengan konsepsi bahasa Firth. Firth tidak percaya bahwa analisis wacana dapat dikembangkan dari prosedur fonemik, juga tidak dengan analogi dari padanya. Firth mengabaikan fakta bahwa pada setiap titik dalam sebuah bahasa dapat dan harus dianggap focus dari banyak sitemik dan hubungan struktural.

4. Kesia-siaan
Istilah kesia-siaan menunjukkan bahwa ciri gayut secara fonemik dalam bahasa adalah yang dibatasi sebgai segmen dasar dan bahwa ada yang lain yakni ciri yang dapat diramalkan secara otomatis yang sifatnya ekstra dan oleh karena itu tidak fungsional. Kaum prosodis berpendapat bahwa perbedaan bunyi itu seperti variasi alofonik adalah sia-sia. Menurut Allen, fakta bahwa fonemisis kemudian memberikan pernyataan distribusional, mendaftar varian alofonik fonem yang dapat diramalkan menurut lingkungannya adalah bukti bahwa asumsi awal mereka sudah salah.
Ciri fonetik yang biasanya ditempatkan pada prosodi dalam sistem ini pada umumnya diperlukan pada latihan fonemik dan seperti usul Zelling Haris, diberi secara fonemik melalui urutan fonem segmen tunggal. Komponen semacam itu disebut “pendek” yang mempunyai segmen tunggal. Dan panjang apabila mempunyai dua morfem atau lebih.
Para prosodis mengingkari bahwa ini merupakan informasi sama yang diberikan oleh mereka. Robin membedakan prosodi dari fonem suprasegmental. Fonem suprasegmental mewakili ciri kuantitatif, sedangkan prosodi berkenaan dengan ciri kualitatif. Prosodi berbeda dengan konsep Haris, tentang komponen panjang fonemik. Menurut Robin, “Abstraksi sebuah komponen dari sebuah fonem dalam sebuah lingkungan termasuk abstraksi dalam semua lingkungannya”. Prosodi dikaitkan dengan struktur fonologis dan gramatik yang khusus, sedang komponen panjang tidak.

Continue reading →

TEORI ALIRAN LINGUISTIK

0 komentar
1. Teori linguistik adalah teori yang dikemukakan oleh aliran linguistik tertentu dan aliran linguistik yang memiliki corak teori tertentu.
2. Kriteria yang dipakai untuk membedakan dan mengelompokkan teori/aliran linguistik adalah kekhususan cara memahami bahasa dan corak analisisnya.
3. Ada empat teori besar yang dikategorikan berdasarkan kriteria tersebut, yang pertama adalah teori/aliran tradisional yang berdasarkan pada pola pemikiran filosofis dan bermula dari Plato dan Aristoteles.
4. Kategori yang kedua adalah teori/aliran struktural yang berlandaskan faham behaviorisme yang beranggapan bahwa jiwa seseorang dan hakikat sesuatu hanya bisa dideteksi lewat tingkah laku dan perwujudan lahiriahnya yang tampak, sehingga aliran struktural mengamati bahasa dan hakikatnya dalam perwujudan sebagai ujar.
5. Kategori ketiga adalah teori/aliran transformasional yang dipelopori oleh Noam Chomsky dan ini merupakan aksi penolakan atas konsep strukturalisme bahwa bahasa adalah faktor kebiasaan.
6. Kategori yang keempat adalah aliran/teori tagmemik dan berangkat dari konsep tagmem yang merupakan bagian dari konstruksi gramatikal dengan empat macam kelengkapan spesifikasi ciri, yakni: slot, kelas, peran, dan kohesi.
7. Ada satu kategori lagi, yaitu kategori aliran lain-lain yang berisi aliran yang tidak terlalu terkenal seperti teori/aliran Bloomfieldian, Stratifikasi, Kopenhagen, Praha, London, dan lain-lain, namun kebanyakan teori tersebut juga sudah tercangkup dalam teori strukturalisme.
Itulah sebagian materi yang dititipkan oleh encik dosen. Kalau ada pertanyaan, langsung saja diajukan kepada encik dosen, supaya lebih mendetil penjelasannya. Tetapi beliau juga berpesan: ketujuh kalimat ini akan dipelajari lebih dalam lagi pada pertemuan selanjutnya.
Baiklah, sekarang ani-ani boleh pulang. Sampai jumpa.

SUMBER : Lidahibu
Continue reading →

LINGUSITIK TRADISIONAL

0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 

Ilmu linguistik sering juga disebut linguistik umum (general linguistic). Artinya, ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja seperti, bahasa Jawa atau bahasa Arab. Melainkan pengajian seluk beluk bahasa pada umumnya, bahasa yang menjadi alat interaksi sosial milik manusia. Dalam bahasa Indonesia kata linguistik bukan hanya berarti ilmu tentang bahasa, tetapi juga berarti bahasa itu sendiri atau mengenai  bahasa.

Sebagai ilmu, linguistik juga sudah mempunyai sejarah yang panjang. Pada dasarnya setiap ilmu termasuk juga ilmu linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu dari tahap pertama yang disebut tahap spekulasi, tahap kedua disebut tahap observasi dan klasifikasi, dan tahap ketiga disebut tahap perumusan teori. Pada tahap spekulasi, pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka. Penyelidikan yang bersifat ilmiah baru dilakukan orang pada tahap ketiga, dinamakan bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan diklasifikasi tetapi juga dibuatkan oleh teorinya.


Dalam sejarah perkembangannya, linguistik penuh dengan berbagai aliran, patiam, pendekatan, dan teknik penyelidikan. Dalam perkembangannya, mulai dari zaman Yunani sampai istilahnya linguistik modern banyak terjadi pertentangan para linguis mengenai studi bahasa. Masing-masing zaman muncul beberapa tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa tersebut. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut penulis bermaksud mengkaji Aliran Linguistik Tradisional.





BAB II
PEMBAHASAN

Linguistik Tradisional sering dipertentangkan dengan bahasa struktural, bedanya tata bahasa tradisional menganalisis bahasa pada filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur / ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu. Bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional akan dibicarakan sebagai berikut :
A.    Linguistik Zaman Yunani ( abad ke 5 SM – abad ke 2 SM )
Ada yang menjadi pertentangan saat itu diantaranya :
1.      Pertentangan antara fisis dan nomos. Bersifat fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri, konversional artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi / kebiasaan.
2.      Pertentangan anologi dan anomali. Kaum anologi ( Plato dan Ariestoteles ) berpendapat bahwa bahasa bersifat teratur, analogi sejalan dengan kaum naturalis, sedangkan anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Kaum anomali sejalan dengan kaum konvensional.
Kaum / yokoh pada Zaman Yunani diantaranya:
1.   . Kaum Shophis ( abad ke 5 SM )
Mereka dikenal karena :
a.       Mereka melakukan kerja secara empiris
b.      Melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu.
c.        Mementingkan bidan retorika dalam studi bahasa.
d.      Memberikan tipe-tipe akalimat menjadi kalimat narasi, kalimat Tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa dan undangan. Gregorias membicarakan tata bahasa.

2.      Plato ( 429 – 347 SM )
a.       Memperdebatkan analogi dan anomaly dalam bukunya Dialog.
b.      mengemukakan masalah bahasa alamiah dan konvensional.
c.       Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah
d.      Pernyataan dipikan manusia dengan perencanaan anomata dan rhemata.
e.       Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.
1)      Anoma ( anomata )
·         Nama ( dalam bahasa sehari-hari )
·         Nomina ( dalam istilah tata bahasa )
·         Subjek ( dalam hubungan subjek logis )
2)      Rhema ( Rhamata ) :
·         Ucapan  ( dalam bahasa sehari-hari )
·          Verba ( dalam istilah tata bahasa )
·         Predikat ( dalam hubungan subjek logis )
3.      Ariestoteles ( 384 – 322 SM )
Membagi kata dalam 3 kelas kata, yaitu anoma, rhema dan syndesmy. Yang dimaksud syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Sydnesmoi itu lebih kurang sama dengan preposisi dan konjungsi yang sekarang kita kenal.
Membedakan jenis kelamin kata ( gender ) menjadi 3 yaitu :maskulin, feminism dan neutrum.
4.      Kaum Stoik ( abad ke – 4 SM )
a.       Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.
b.      Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.
c.       Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa yaitu : Tanda, simbol, sign atau semainon,
d.      makna, apa yang disebut smainomen / lekton, hal-hal diluar bahasa yakni benda-benda / situasi.
e.      Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang menagandung makna.
f.        Mereka membagi jenis kata menjadi 4 kata yaitu benda, kata kerja,v syndesmoi dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.
g.       Membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.
5.       Kaum Alexandrian
Kaum ini menganut paham analogi dan studi bahasa, menghasilkan buku tata bahasa yang disebut Tata Bahasa Dionysus Tharx dan diterjemahkan oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika. Buku ini yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya. Karena sifatnya mentradisi makna buku-buku tata bahasa kini disebut dengan nama tata bahasa tradisional. Jadi, cikal bakal tata bahasa tradisional itu berasal dari buku Dionysus Tharx.
Di India pada tahun 400 SM Panini seorang sarjana Hindu membuat buku dengan judul Adtdyasi merupakan deskripsi lengkap bahasa Sansakerta yang pertama kali ada. Oleh karena itu Leonard Bloomfield, tokoh linguis structural Amerika menyebut Panini sebagai One of The Greatest Monuments of The Human Intelligenci.
B.     Zaman Romawi
Merupakan kelanjutan dari zaman yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro ( 116 – 27 SM ) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institusiones Grammaticae.
.
Varro dan “ De Lingua Latina ” Dalam buku ini Varoo masih membahas masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani. Dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis

Tata bahasa Priscia
Dianggap sangat penting karena : Merupakan buku tata bahasa latin paling lengkap yang dituturkan pembicaraan aslinya. Teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Segi yang dibicarakan dari buku itu adalah : (i) Fonologi dibicarakan mengenai huruf / tulisan yang disebut Literae / bagian terkecil dari bumi yang dapat dituliskan, (ii) Morfologi dibicarakan mengenai Dictio / kata, (iii) Sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukan kalimat itu selesai. Buku Institutiones Garammaticae ini telah menjadi dasar tata bahasa latin dan zaman pertengahan.
C.    Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan :
1.      Kaum Modistae
·         Mereka menerima analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat regular dan universal.
·         Mereka memperhatikan secara penuh akan semantic sebagai penyebutan defines bentuk-bentuk bahasa.
·          Mereka mencari sumber makna, maka dengan demikian berkembanglah bidang etimologi pada zaman itu
b.       Tata Bahasa Skulativa
Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin kedalam filsafat skolastik.
c.       Petrus Hispanus
·         Memasukan psikologi dalan analisis makna bahasa
·         Membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen subtantivum dan nomen edjektivum
·         Membedaan semua bentuk yang menjadi subjek / predikat dan bentuk tutur lainnya.
D.    Zaman Renaisans
Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat.
1.      Sarjana-sarjana pada waktu itu menguasai bahasa latin, Ibradi dan Arab,
2.      Bahasa Eropa lainnya mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa dan perbandingan.
E.     Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Sejak awal buku ini sudah menyebut-nyebut bahwa Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Diawali dengan pernyataan Sir William tentang adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sansakerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa Jerman lainnya telah membuka babak baru sejarah Linguistik, yakni dengan berkembangnya studi linguistic banding atau linguistic histories komparatif, serta studi mengenai hakekat bahasa secara linguistic terlepas dari masalah filsafat Yunani kuno.
Bila kita simpulkan pembicaraan mengenai linguistik tradisional dapat dikatakan bahwa :
1.      Pada tata bahasa tradisional ini tidakdikenal adanya perbedaan antara bahasa ujarang dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan.
2.      Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa latin.
3.      Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara persepektif, yakni benar / salah.
4.      Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
5.      Penemuan-penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.
Sedangkan Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri bahasa itu. Tokoh-tokohnya :
a)      Ferdinand de Saussure.
1)      Telaah sinkronik ( mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja ) dan diakronik ( telaah bahasa sepanjang masa)
2)      Perbedaan langue dan parloe. Lague yaitu keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedangkan parloe sifatnya konkret karena parloe tidak lain dari pada realitas fisis yang berada dari yang satu dengan orang yang lain.
3)      Perbedaan signifian dan signifie. Signifian adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam alam pikiran ( bentuk ), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita ( makna )
4)      Hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Yang dimaksud hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan parsdigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan antara unsur-unsur yang terdapat dalam satu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.
b)      Aliran Praha
Sumbangan aliran ini dalam bidang fonologis ( mempelajari bunyi tersebut dalam suatu sistem ) dan bidang sintaksis dengan menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional.
c)      Aliran Glosematik
Aliran Glosematik lahiran Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev yang meneruskan ajaran Fernand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan terminologis sendirian.
d)     Aliran Fitrhian
Nama John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai finolofi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan ati pada tataran fonetis.
e)      Linguistik Sistemis.
Pokok pandangan aliran ini adalah :
·         memberikan perhatuan penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
·         memandang bahasa sebagai sarana
·         mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya
·         SL mengenal adanya gradasi / kontinum
·         SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa
f)       Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Disebut aliran Bloomfield karena bermula dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.
g)      Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut alitan ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem ( susunan ) . Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsinya saja. Seperti subjek + predikat + objek dan tidak dapat dinyatakan dengan bentuk saja, seperti fase benda + fase kerja + fase benda, melainkan harus diungkapkan kesamaan dan rentetan rumus seperti : S : FN + P : FN + O : FN. Fungsi subjek diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.
Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Kemudian orang pun marasa bahwa model struktural itu banyak kelemahannya, sehingga orang mencoba merevisi model struktural.



























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tata Bahasa Dionysus Tharx dan diterjemahkan oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika. Buku ini yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya. Karena sifatnya mentradisi makna buku-buku tata bahasa kini disebut dengan nama tata bahasa tradisional. Jadi, cikal bakal tata bahasa tradisional itu berasal dari buku Dionysus Tharx.
Linguistik Tradisional sering dipertentangkan dengan bahasa struktural, bedanya tata bahasa tradisional menganalisis bahasa pada filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur / ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu.  Dan dibawah ini sejarah linguistik dan proses terbentuknya tata bahasa tradisional adalah sebagai berikut:
·         Linguistik Zaman Yunani
·         Linguistik Zaman Romawi
·         Linguistik Zaman Pertengahan
·         Zaman Renaissans dan
·         Menjelang lahirnya Linguistik Modern

B.     Saran
Apabila dalam penulisan makalah ini ada kesalahan, saya atas nama penulis memohon untuk memberikan kritik, saran dan masukannya yang bersifat untuk membangun agar menuju kepada kesempurnaan.




Daftar Pustaka

Chaer, Abdul.2003. Linguistik Umum.Jakarta: Rineka Cipta

Lyons, John. 1995. Pengantar Teori Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Samsuri. 1981. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana



KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang maha esa, atas rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat membuat dan menyelesaikan tugas ini
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah linguistik dengan judul “ Aliran Linguistik Tradisional ”.
Harapan saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pendidikan pada umumnya dan pendidikan linguistik pada khususnya.
Demikianlah tugas ini saya susun, saya menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan tugas ini, kepada para mahasiswa jurusan pendidikan bahsa Jerman serta Dosen yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini, saya ucapkan terima kasih.
Makassar,    Desember 2013


                                                                                                      Penyusun


ii
 

 

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………   i    
Kata pengantar…………………………………………………………………………  ii
Daftar isi ……………………………………………………………………………....  iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang….…………………………………………………………….  1
B.     Rumusan masalah…………………………………………………………….  1
C.     Tujuan …………………………………………………………………………  2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Linguistik zaman yunani …………………………………………………… 3
B.     Zaman romawi……………………………………………………………….. 5
C.     Zaman pertengahan…………………………………………………...  6
D.    Zaman renaisans………………………………………………………  7
E.     Menjelang lahirnya linguistik modern……………………………….   7
BAB II PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………….   11
B.     Saran…………………………………………………………………   11
Daftar pustaka ……………………………………………………………………….. 12







iii
 
 
Tugas Kelompok
LINGUISTIK
ALIRAN LINGUSTIK TRADISIONAL


AGUNG RINALDY MALIK
DESI SUGIARTI
ZULFAIDAH ARIS
AQSANI

PENDIDIKAN BAHASA ASING/JERMAN
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA

 
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
Continue reading →
 
Hidup tak selalu seperti yang kamu mau. Hal baik dan buruk terjadi selalu, namun semua itu telah diatur Tuhan, dengan akhir yang indah.
Selamat Datang di blogku Berbagi Melalui Karya, Terima kasih telah berkunjung di blog ku.. Semoga anda senang!! ------ Kadang kamu bertemu seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu hanya tuk menyadari pada akhirnya kamu harus melepaskannya------Selalu lakukan kebaikan dengan cara terbaik, Karena dengan cara itulah kedamaian akan tercipta------